SIM

PENGEMBANGAN SIM DI SUSUN OLEH : ROSMIDA POHAN 16 302 00036 MARLINA NASUTION 16 302 00027 Dosen Pembimbing YULI EVIYANTI, SE., MM. FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PADANGSIDIMPUAN 2017 KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah SWT atas rahmat dan perkenan-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah Metode Studi Islam “Pengembangan SIM“ dengan tepat waktu. Atas selesainya penyusunan makalah ini kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam proses penyusunan makalah ini. Terutama dosen mata kuliah Sistem Informasi Manajemen.. Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pembaca agar dapat menyempurnakan penyusunan makalah yang selanjutnya. Akhir kata kami ucapkan semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi semua pihak, khususnya para pembaca. Amien. PENDAHULUAN Baik manajer maupun para pengembang sistem dapat menerapkan pendekatan sistem ketika memecahklan masalah. Pendekatan sistem terdiri atas tiga tahapan kerja : pesiapan, definisi, dan solusi. Didalam setiap tahapan terdapat urut-urutan langkah. Ketika diterapkan pada masalah pengembangan sistem, pendekatan sistem ini disebut siklus hidup pengembangan sistem (system development lifa cycle -SDLC). Pendekatan SDLC tradisional terdiri atas lima tahap yang terjadi satu demi satu. Prototyping adalah penyempurnaan dari pendekatan tradisional. Pendekatan ini menyadari ada nya keuntungan dari meminta permohonan umpan balik dari pengguna berulang kali dan meresponnya dengan perbaikan sistem dan tetap meneruskan siklus sampai sistem memenuhi kebutuhan para pengguna. Satu pendekatan SDLC yang saat ini sangat populer adalah pengembangan berfase ( phase development). Pendekatan ini didasarkan atas pemikiran bahwa suatu proyek akan dibagi menjadi modul-modul, dan analisis, perancang, dan pekerjaan-pekerjaan konstruksi awal yang ditujukan untuk setiap modul. Pengembangan sistem saat tinggi biayanya dilihat dari sudut uang maupun waktu. Sebagai akibatnya, proses ini hendaknya dikelola dengan baik.eksekutif perusahaan akan membrikan tingkat pengawasan yang tinggi, sering kali para eksekutif tersebut ikut berpartisasi didalam suatu steering committe SIM yang mengawasi saluran proyek yang sedang berjalan. Masing-masing proyek pada umumnya dikelola oleh seorang pimpinan proyek . Pengertian Siklus hidup pengembangan sistem Pengembangan sistem adalah penyusunan suatu sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada. 1. Tim Pengembangan Sistem Pengembangan sistem tentunya harus didukung oleh personel-personel yang kompeten dibidangnya. Suatu Tim biasanya terdiri dari ; - Manajer Analis Sistem - Ketua Analis sistem - Analis Sistem senior - Analis Sistem junior - Pemrogram Aplikasi Senior 2. Indikator diperluannya Pengembangan Sistem: 1. Keluhan pelanggan 2. Pengiriman barang yang sering tertunda 3. Pembayaran gaji yang terlambat 4. Laporan yang tidak tepat waktu 5. Isi laporan yang sering salah 6. Tanggung jawab yang tidak jelas 7. Waktu kerja yang berlebihan 8. Ketidakberesan kas 9. Produktivitas tenaga kerja yang rendah 10. Banyaknya pekerja yang menganggur Dll. 3. Prinsip pengembangan sistem: - Sistem yang dikembangkan adalah untuk manajemen - Sistem yang dikembangkan adalah investasi modal yang besar - Sistem yang dikembangkan memerlukan orang yang terdidik - Tahapan kerja dan tugas-tugas yang baru dilakukan dalam proses pengembangan sistem - Proses pengembangan sistem tidak harus urut - Jangan takut membatalkan proyek - Dokumentasi harus ada untuk pedoman dalam pengembangan sistem. A.Penerapan Pendekatan Sistem Inti dari prosedur-prosedur yang sering kali diusulkan dalam menerapkan pendekatan sistem di dalam tahapan-tahpan metode ilmiahnya sebagai berikut: 1.Tahap Pertama (pernyataan tujuan) Ketika kita menentukan tujuan, kita sebenarnya menentukan sasaran yang ingin dicapai, untuk menentukan apakah output yang dihasilkan sesuai dengan output yang diharapkan. Maka tujuan harus dinyatakan dalam bentuk yang dapat diukur dan harus ditentukan kriteria kinerja. 2.Tahap kedua ( sintesa) Mengkombinasikan bagian-baigian atau elemen untuk membentuk suatu kesatuan. Sintesa dimulai dengan mengidetifikasi komponen-komponen suatu sistem tertentu untuk dipilih kaitannya dan keterbatasan yang dimiliki baik oleh lingkungan atau sistem itu sendiri. 3.Tahap ketiga (evaluasi) Menilai setiap alternative sistem terasa terperinci untuk menilai kinerja dan menentukan sejauh mana sistem tersebut dapat memenuhi target yang ditentukan. 4.Tahap empat (pemilihan) Kita melaksanakan pemilihan terakhir dari beberapa alternative sisitem dari bersarkan sistem hasil penilaian kita. Suatu hal yang perlu disadari dari proses pemilihan adalah bahwa suatu sistem apapun akan menjadi sempurna dalam berbagai pertimbangan dan ini hal yang tidak dikehendaki. 5.Tahap lima (penerpan) Penerapan sistem merupakan arah dimana kita pada akhirnya akan menemukan sebaik atau seburuk apa sistem kita bekerja dalam mencapai tujuannya. B. Pengertian Prototyping, Rapid Application Development Para pengembang selalu melakukan loopingkembali dan mengerjakan ulang untuk mendapatkan sebuah sistem yang dapat memuaskan penggunanya yang proyek-proyek tersebut cenderung berlanjut hingga berbulan bahkan bertahun yang hampir selalu melebihi anggarannya. Sebagai tanggapan atas keterbatasan tersebut, para pengembang sistem memutuskan untuk menerapkan suatu teknik yang telah terbukti efektif dalam pekerjaan lain yaitu prototype. Prototype adalah satu versi dari sebuah sistem potensial yang memberikan ide bagi para pengembang dan calon pengguna, bagaimana sistem akan berfungsi dalam bentuk yang telah selesai. Proses membuat prototype ini disebut prototyping. 1. Jenis-Jenis Prototype Terdapat dua jenis prototype : evolusioner dan persyaratan. Prototype Evolusioner terus menerus disempurnakan sampai memiliki fungsionalitas yang dibutuhkan pengguna dari sistem yang baru yang kemudian dilanjutkan produksi. Prototype Persyaratan dikembangkan sebagai satu cara untuk mendefinisikan persyaratan-persyaratan fungsional dari sistem baru ketika pengguna tidak mampu mengungkapkan dengan jelas apa yang mereka inginkan. Pengembangan Prototipe Evolusioner. Ada empat langkah dalam pengembanga prototipe evolusioner, yakni : a.Mengidentifikasi kebutuhan pengguna, mewawancarai pengguna untuk mendaoatkan ide mengenai apa yang diminta dari sistem b.Membuat satu prototipe, pengembang menggunakan satu alat prototyping atau lebih untuk membuat prototipe. c.Menentukan apakah prorotipe dapat diterima. Pengembang mendemonstrasikan prototipe kepada pengguna untuk mengetahui apakah telah memberikan hasil yang memuaskan atau belum. Jika ya, maka langkah selanjutnya diambil jika tidak maka prototipe akan diulang kembali dari lengkah awal. d.Menggunakan prototipe. Prototipe menjadi sistem produksi. e.Membuat kode sistem baru. Pengembang menggunakan prototipe sebagai dasar pengkodean sistem baru f.Menguji sistem baru. Pengembang menguji sistem g.Menentukan apakah sistem yang baru dapat diterima. Jika sistem yang baru dapat diterima, maka langkah selanjutnya dapat diambil, jika tidak maka kembali ke langkah e dan f diulang kembali h.Membuat sistem baru menjadi sistem produksi 2.Daya Tarik Prototyping Pengguna menyukai prototyping karena : •Membaiknya komunikasi antara pengembang dan pengguna •Pengguna memainkan peranan yang lebih aktif dalam pengembangan sist•Pengembang dapat melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam kebutuhan penggunaan •Pengembang dan pengguna menghabiskan waktu dan usaha yang lebih sedikit dalammengembangkan sistem •Implementasi menjadi jauh lebih mudah karena pengguna tahu apa yang diharapkannya. 3.Potensi Kesulitan Dari Prototyping Prototyping bukannya tidak memiliki potensi kesulitan. Kesulitan-kesulitan tersebut antara lain: •Terburu-buru dalam menyerahkan prototipe dapat menyebabkan diambilnya jalan pintas dalam definisi masalah, evaluasi alternatif dan dokumentasi •Pengguna dapat terlalu gembira dengan prototipe yang diberika, yang mengarah pada ekspektasi yang tidak realisitis sehubungan dengan sistem produksi nantinya •Prototipe evolusioner bisa jadi tidak terlalu efisien •Antarmuka komputer-manusia yang diberikan oleh beberapa alat prototyping tertentu kemungkinan tidak mencerminkan teknik-teknik desain yang baik C. Pengembangan Aplikasi Cepat Rapid application development (RAD) adalah kumpulan strategi, metodologi, dan alat terintegrasi yang terdapat di dalam suatu kerangka kerja yang disebut rekayasa informasi.Rekayasa informasi (Information engineering – IE)adalah nama yang diberikan James Martin kepada keseluruhan pendekatan pengembangan sistemnya, yang ia perlakukan sebagai suatu aktivitas perusahaan secara menyeluruh. Unsur-Unsur Penting RAD Manajemen. Khususnya manajemen puncak, hendaknya menjadi penguji coba (experimenter) yang suka melakukan hal hal dengan cara baru atau pengadaptasi awal (early adapter) yang dengan cepat mempelajari bagai mana cara menggunakan metodologi-metodologi baru Orang. Daripada hanya memanfaatkan satu tim untuk melakukan seluruh aktivitas RAD menyadari adanya efiesiensi yang dapat dicapai melalui penggunaan tim-tim khusus. Metodologi. Metodologi dasar RAD adalah siklus hidup RAD Alat-Alat. Terutama terdiri atas bahasa-bahasa generasi keempat dan alat-alat rekayasa peranti lunak dengan bantuan komputer yang memfasilitasi prototyping dan penciptaan kode. D. Pengembangan Berfase Pengembangan berfrase adalah suatu pendekatan bagi pengembangan sistem informasi yang terdiri atas enam tahap Investigasi awal, analisis, desain, konstruksi awal, konstruksi akhir, serta pengujian, dan pemasangan sistem. Tahap-Tahap Pengembangan Berfase Enam tahap pengembangan berfase yaitu: •Investigasi awal. Para pengembang, termasuk juga pengguna dan spesialis informasi malakukan analisis usaha dengan tujuan untuk mempelajari tentang organisasi dengan maslah sistemnya. •Analisis. Pengembang menganalisis persyaratakan fungsional pengguna untuk masing-masing modul sistem dengan menggunakan berbagai macam teknik pengumpulan informasi dan kemudian mendokumentasikan temuannya dalm bentuk model proses, data dan objek. •Desain. Pengembang merancang komponen antarmuka dengan sistem lain untuk setiap modul sistem yang baru dan mendokumentasikan desain •Konstruksi awal. Pengguna membuat dan menguji peranti lunak dan data untuk setiap modul isitem dan mendapatkan umpan balik dari pengguna. •Konstruksi akhir. Peranti lunak diintegrasikan untuk membentuk sistem yang lengkap yang diuji bersama dengan datanya. •Pengujian dan pengembangan system. Pengembangan merancang dan melaksanakan uji sistem tidak hanya mencakup peranti lunak dan data melainkan juga sumber daya informasi lainnya-peranti keras, fasilitas, personel dan prosedur. E. DesainUlang Proses Bisnis Proses pengerjaan ulang sistem disebut dengai istilah rekayasa ulang atau disebut juga dengan istilah desain ulang proses bisnis ( business procces redesign – BPR ) BPR memengaruhi operasi TI perusahaan dalam dua hal. Pertama, TI dapat menerapkan BPR untuk mendesign ulang sistem-sistem informasi yang hidupnya tidak dapat dipertahankan lagi dengan pemeliharaan biasa. Pengertian Siklus hidup pengembangan sistem Pengembangan sistem adalah penyusunan suatu sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada. 1. Tim Pengembangan Sistem Pengembangan sistem tentunya harus didukung oleh personel-personel yang kompeten dibidangnya. Suatu Tim biasanya terdiri dari ; - Manajer Analis Sistem - Ketua Analis sistem - Analis Sistem senior - Analis Sistem junior - Pemrogram Aplikasi Senior 2. Indikator diperluannya Pengembangan Sistem: 1. Keluhan pelanggan 2. Pengiriman barang yang sering tertunda 3. Pembayaran gaji yang terlambat 4. Laporan yang tidak tepat waktu 5. Isi laporan yang sering salah 6. Tanggung jawab yang tidak jelas 7. Waktu kerja yang berlebihan 8. Ketidakberesan kas 9. Produktivitas tenaga kerja yang rendah 10. Banyaknya pekerja yang menganggur Dll. 3. Prinsip pengembangan sistem: - Sistem yang dikembangkan adalah untuk manajemen - Sistem yang dikembangkan adalah investasi modal yang besar - Sistem yang dikembangkan memerlukan orang yang terdidik - Tahapan kerja dan tugas-tugas yang baru dilakukan dalam proses pengembangan sistem - Proses pengembangan sistem tidak harus urut - Jangan takut membatalkan proyek - Dokumentasi harus ada untuk pedoman dalam pengembangan sistem. F. Penerapan Pendekatan Sistem Inti dari prosedur-prosedur yang sering kali diusulkan dalam menerapkan pendekatan sistem di dalam tahapan-tahpan metode ilmiahnya sebagai berikut: 1.Tahap Pertama (pernyataan tujuan) Ketika kita menentukan tujuan, kita sebenarnya menentukan sasaran yang ingin dicapai, untuk menentukan apakah output yang dihasilkan sesuai dengan output yang diharapkan. Maka tujuan harus dinyatakan dalam bentuk yang dapat diukur dan harus ditentukan kriteria kinerja. 2.Tahap kedua ( sintesa) Mengkombinasikan bagian-baigian atau elemen untuk membentuk suatu kesatuan. Sintesa dimulai dengan mengidetifikasi komponen-komponen suatu sistem tertentu untuk dipilih kaitannya dan keterbatasan yang dimiliki baik oleh lingkungan atau sistem itu sendiri. 3.Tahap ketiga (evaluasi) Menilai setiap alternative sistem terasa terperinci untuk menilai kinerja dan menentukan sejauh mana sistem tersebut dapat memenuhi target yang ditentukan. 4.Tahap empat (pemilihan) Kita melaksanakan pemilihan terakhir dari beberapa alternative sisitem dari bersarkan sistem hasil penilaian kita. Suatu hal yang perlu disadari dari proses pemilihan adalah bahwa suatu sistem apapun akan menjadi sempurna dalam berbagai pertimbangan dan ini hal yang tidak dikehendaki. 5.Tahap lima (penerpan) Penerapan sistem merupakan arah dimana kita pada akhirnya akan menemukan sebaik atau seburuk apa sistem kita bekerja dalam mencapai tujuannya. KESIMPULAN Setelah membaca uraian di atas maka dapat saya simpulkan, bahwa perkembangan informasi sudah ada sejak zaman dahulu. Akan tetapi ketika dulu tidak semaju seperti sekarang. Dulu penyampaian informasi dimulai dari gambar-gambar yang tak bermakna di dinding-dinding gua, peletakkan tonggak sejarah dalam bentuk prasasti. Bahkan pada tahun 1940 saat perang dunia ke 2 sistem informasi digunakan oleh militer untuk pengiriman dan penerimaan dokumen-dokumen. Pengiriman dan penerimaan dokumen-dokumen ini disimpan dalam bentuk magnetic tape. Ada beberapa faktor yang memengaruhi pengembangan sistem informasi baik dari intrenal maupun eksternal. Faktor-faktor tersebut yaitu teknologi eksternal dan internal, serta bisnis eksternal maupun internal. Bisnis eksternal menyangkut tentang pasar, pelanggan, perusahaan, pemerintah, dan perangkat hukum. Sedangkan bisnis internal meliputi struktur organisasi, infrastruktur atau aset, proses, sumber daya manusia, serta budaya perusahaan. Adapun teknologi eksternal yaitu ilmu pengetahuan, dan teknologi yang berkembang dalam lingkungan eksternal organisasi. Dan teknologi internal meliputi software, hardware, aplikasi, dan infrastruk. Selain faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, ada pula faktor pertimbangan dalam perencanaan sistem. Di antaranya yaitu lingkungan di mana organisasi harus melakukan fungsi, struktur organisasi hirarki, spesialisasi, standar prosedur operasi, budaya dan politik organisasi, riwayat organisasi: investasi dalam bidang teknologi informasi yang telah dilakukan, skill yang dimiliki, program-program penting, dan sumberdaya manusia, dan lain-lain. Juga ada pendekatan pengembangan sistem informasi, serta tahap pengembangan sistem informasi. DAFTAR PUSTAKA Reymond, MC Leod. 2009. Sistem Informasi Manajemen. Salemba Empathttp://nurputriutami.blogspot.com/2017/`2/pendekatan-sistem.html http://rezkyimmanuel.blogspot.com/2017/2/pendekatan-sistem-dalam-memecahkan.html

Komentar